Sungai Cisadane, Saksi Peradapan Kota Tangerang Dari Beberapa Masa

1
871
“Sungai Cisadane, pada masanya pernah menjadi urat nadi transportasi dan Kehidupan, memberi ruang dan kemudahan dalam berpindah maupun bernafkah”
Pagi itu suasana cerah ditemani matahari yang sedikit malu-malu tersenyum, dengan berbincang ringan dan bercanda tawa sayapun mengobrol dengan dua blogger kawakan yaitu mas Wira Nurmansya dan mas Tekno Bolang sembari sarapan soto yang dijual di samping jalan sungai Cisadane, sotonya enak banget.
Acara kita hari ini adalah mau jalan-jalan menyusuri Sungai Cisadane dan sekitarnya, sambil menunggu teman kita satunya lagi yaitu kakak Indri, seorang blogger perempuan yang masih dalam perjalanan dari Depok menuju Tangerang
Tak terasa suasana sarapanpun berlalu, soto dan minumannya sudah habis kita lahap, tak lama kemudian datanglah kak Indri dengan setelan serba Hijau cantik hehehe. setelah beberapa menit berkenalan dan mengobrol ringan, maka kami putuskan untuk naik kapal, kebetulan kami juga didampingi bapak-bapak yang dari tadi sudah ngobrol dengan kami waktu sarapan sambil bapak-bapak itu menawarkan sewa Kapal perahu, setelah kita berempat ngobrol-ngobrol ringan, maka kami putuskan untuk susur sungai Cisadane dengan kapal perahu.
Satu-persatu kami masuk ke perahu dengan sedikit mengimbangi goncangan yang terjadi, karena kami mulai menaiki perahu dan sontak perahunya pun berguncang, mungkin karena badan kita yang besar-besar. Dengan tenang  kami duduk manis secara perlahan-lahan dan Si bapak pengayuh kapal mulai mengayuh dengan dayung perahunya.
Kapal perahu ini bukan merupakan perahu wisata, hanya sebagai sarana transportasi penyebrang penduduk setempat dan sebagai sarana ibadah bagi warga Tionghoa yang ingin beribadah dengan melepaskan hewan hidup ke sungai seperti ikan lele atau kura-kura, sehingga wisatawan merupakan rejeki tambahan bagi bapak-bapak yang nyewain kapal. Meskipun saya tidak melihat adanya pelampung dan alat keselamatan lainnya tapi sekilas terlihat secara keseluruhan aman, toh kalo kapal tenggelampun saya kira akan banyak yang menolong, dikarenakan suasana di pinggir dan di tepi-tepi dungai cisadane tergolong rame.
Oh iya, waktu itu kapal yang kita naikin bocor, meskipun kita semua bisa berenang, tapi bagaimana dengan kamera dan barang-barang kami lainnya? tapi berbeda dengan bapak yang mengendalikan kapalnya, beliau bilang bahwa kapalnya bocor dengan nada santai seolah tidak terjadi apa-apa, sedikit kami kaget tapi melihat suasana yang biasa-biasa saja, sayapun juga santai.
Dengan mengayuh dayungnya, si bapak bilang “kapalnya bocor jadi kita menepi ganti kapal dulu yaaa” kata si bapak dengan wajah santai kayak ditepi pantai hehehe
Tidak lama kemudian kami ganti kapal sembari melihat bapak-bapak lainnya yang lagi ngerumpi dan aktifitas ibu-ibu di samping sungai
susur sungai Cisadane kita, bisa dibilang sebagian dan tidak menyeluruh, tapi sudah banyak hal yang kita dapatkan.  Mulai dari sekelumit kegiatan dari warga kampung bantaran Sungai Cisadane maupun alam dan mahluk hidup lainnya.
sekelompok anak bermain di tepi sungai dan ada ibu-ibu yang memberi makan ternak ayam-ayamnya. Di sudut lain terlihat gadis remaja yang mencuci pakaiannya meskipun boleh dibilang kualitas air sungai Cisadane kurang bagus, tapi mungkin itulah yang bisa mereka hadapi.
disisi lain ada beberapa kelompok bapak-bapak yang sedang memancing ikan dan ketepatan pula ada yang dapat ikan, sontak saya bilang “itu ada yang dapat” dan sih bapak pengayuh kapal bilang “sepertinya ikan lele”
perlahan kapal kami menyusuri sungai dan disekitar kapal kita beberapa kali ada ikan yang meloncat serta banyak terlihat ikan sapu-sapu serta di tepian sungai tadi juga banyak terlihat kecebong dan juga kata bapak pengayuh kapal juga masih banyak ikan gabus, jadi menandakan bahwa nilai ekologi sungai Cisadane ini masih lumayan cukup bagus dan semoga semakin bagus apalagi melihat sungainya yang tenang dan tidak terlalu banyak sampah sehingga memberi gambaran taraf kesadaran hidup masyarakat di bantaran sungai sungai Cisadane sudah mulai bagus.
Akhirnya kami harus menepi ke dermaga pertama kali kami naik yaitu dermaga di sisi timur dengan bangunan yang tersusun rapi dan bantaran kali dengan tanggul beton pas disisih jalan raya. ketika mendarat saya melihat lagi aliran sungai yang kita susuri, terlihat sisi barat sungai dengan perpaduan rumah dan tumbuh-tumbuhan yang masih tampak hijau serta air sungai pun langsung bertemu dengan tepian tanah merah daratan warga bantaran sungai Cisadane sebelah timur
Setelah mendarat didermaga, kami melanjutkan untuk jalan jalan ke Kuil Boen Tek Bio dan museum sekalian belanja karena dekat pasar.
Dalam perjalanan pulang saya hanya terngiang, seandainya Cisadane bisa dikembangkan lagi menjadi area wisata, kama akan banyak warga secara ekonomi akan terangkat.
Ada yang berminat susur Sungai Cisadane? Kalau ada waktu dan sempat Ayuuuuk ajak saya dan bareng-bareng lagi! Siapa tahu banyak hal-hal yang bisa kita temukan.

1 COMMENT

  1. Banyak sungai-sungai di Indonesia yang bisa dijadikan tempat wisata, transportasi dll, bila kita kita menjaga kebersihan dan aktivitas #saverivers

LEAVE A REPLY