Karangantu Sebagai Pelabuhan Besar Di Jawa

5
1377
Sebelum datangnya kolonial Belanda. Pelabuhan Karangantu merupakan pelabuhan utama Kesultanan Banten yang pernah didatangi kapal-kapal dagang dari Cina, Arab, Turki Portugis, Inggris bahkan Belanda datang pertama kali ke pulau Jawa pada tahun 1596 melalui pelabuhan ini juga dan Pada abad XVI-XVII Banten merupakan pusat perdagangan rempah-rempah yang cukup besar di Asia Tenggara sehingga menjadikan Karangantu sebagai pelabuhan besar di Jawa pada saat-saat itu.
Dalam buku “Mengenal Peninggalan Sejarah dan Purbakala Kota Banten Lama” oleh Uka Tjandrasasmita, Hasan M Ambary, dan Hawany Michrob tercatat bahwa Tom Pires, seorang pedagang yang juga ahli obat-obatan dari Portugal mengemukakan bahwa Pelabuhan Karangantu merupakan pelabuhan terbesar kedua setelah Pelabuhan Sunda Kelapa di Jayakarta, begitu juga menurut Cornelis de Houtman asal Belanda pada tahun 1596 Banten disebut Kota Pelabuhan dan Perdagangan yang sama besar dengan Kota di Amsterdam saat itu, sama pula yang diungkapkan oleh Vincent Leblanc asal Perancis waktu tiba di Banten pada abad 16.
Ada beberapa mitos mengenai nama Karangantu sendiri, mitos pertama menyebutkan tatkala itu pihak Belanda memberikan peti-peti berisi hadia kepada Sultan sehingga peti-peti tersebut dibawa di hadapan sultan, sebelum dibuka, sultan mempunyai firasat dan keahlian mengetahui sebelum hal-hal yang belum terjadi atau weruh sak jeruning winarak bahwa peti-peti tersebut berisi penyakit atau antu dalam bahasa keseharian masyarakat sekitar, sehingga sultan memerintahkan untuk membuang peti-peti tersebut diantara karang-karang dekat pelabuhan sehingga bernama pelabuhan Karangantu. Begitu juga dengan mitos lainnya yang menyebutkan pada waktu itu ada seorang Belanda yang membawa guci berisikan hantu. Hingga suatu hari guci itu pecah dan hantu yang di dalamnya keluar. Mulai saat itulah pelabuhan yang telah berganti menjadi kampung nelayan ini diberi nama Pelabuhan Karangantu. Namun bila mitos ini benar-benar kita percayai, berarti pelabuhan tersebut mempunyai nama tersendiri sebelum pelabuhan tersebut terkenal dengan nama Karangantu.
Ada juga mitos yang menyebutkan bahwa sebelumnya Pelabuhan tersebut adalah pelabuhan yang sangat besar dan Belanda sudah menimbun pelabuhan tersebut untuk dialihkan ke pelabuhan yang baru dibuat oleh Belanda, akan tetapi pelabuhan tersebut masih saja rame dan suatu ketika terjadilah wabah penyakit di sekitar pelabuhan tersebut dan pihak Belanda memerintahkan agar masyarakat sekitar Pelabuhan untuk berpinda karena diperkirakan antu atau penyakit yang menyerang ada diantara karang-karang yang berada dipelabuhan sehingga sisa-sisa pelabuhan yang ada sekarang disebut Pelabuhan Karangantu
Pada tahun 1991 pelabuhan ini pernah dikeruk agar kapal-kapal yang bertonase besar dapat masuk dan sampai sekarang pelabuhan ini masih dimanfaatkan untuk pelabuhan dan pusat perdagangan ikan, khususnya untuk daerah Serang sendiri, namun masih jauh bila dibilang bahwa pelabuhan Karangantu saat ini merupakan Pelabuhan yang selayaknya. 
Meskipun kondisi Pelabuhan Karangantu ini belum terasa optimal, akan tetapi Pelabuhan ini memiliki kharisma tersendiri, selain menjadi saksi sejarah bahwa Pelabuhan Karangantu adalah salah satu pelabuhan yang sangat terkenal pada zamannya, Pelabuhan ini juga menjadi tempat awal para bangsa Barat pertama kali menginjakkan kaki di Nusantara ini Sehingga Pelabuhan Karangantu dapat dibilang sebagai salah satu titik awal perkembangan peradaban di Indonesia serta dilihat dari sudut geografi dan ekonomi, Banten merupakan kota pelabuhan yang penting karena letaknya yang strategis dalam penguasaan Selat Sunda. 
Pelabuhan Karangantu sekarang sudah diresmikan menjadi peninggalan sejarah dan sebagai tujuan wisata, mengingat lokasinya  yang  cukup strategis karena terletak tidak jauh dari objek-objek wisata di Banten seperti Masjid Agung Banten, Keraton Kaibon, dan lain-lain di Kecamatan Kasemen, Serang – Banten. Pelabuhan Karangantu ini pada setiap Bulan Oktober atau November setiap tahunnya diselenggarakan kegiatan Pesta Ruat Laut sehingga menjadi daya tarik wisatawan. Selain itu pelabuhan Karangantu menjadi Pelabuhan para wisatawan untuk mengunjungi pulau-pulau yang letaknya tak jauh dari sana seperti Pulau Burung, Lima, Pisang dan Pulau Tunda yang terkenal serta Pulau-Pulau lainnya.  Selain pulau-pulau tersebut memiliki keindahan pantai, pulau-pulau tersebut memiliki keindahan pemandangan bawah lautnya.

5 COMMENTS

  1. Semoga saja dalam tahun ini Karang Antu bisa dikembangkan, sejalan dengan program pemerintah yang akan fokus pada bidang Maritim

  2. Dengan adanya obyek "wisata pulau" dikarangantu ini, karangantu sudah begitu ramai akan pengunjungnya.. harapan saya, semoga obyek wisata ini tetap berkembang dan terus dikembangkan sebagai wisata bahari teluk banten.. salam dari saya dan mohon partisipasinya untuk dukungan dalam mengembangkan wisata bahari antar pulau di teluk banten ini.. by : Hilal (Tour Guide "Wisata Pulau Tiga dan pulau Empat" Teluk Banten)
    Contact Person : 0818427660 (XL), 081513684880 (Indosat), 085211613770 (telkomsel).
    PIN : 52727C79.

  3. […] persiapan kapal selesai, saya menyempatkan diri memotret kapal-kapal yang merapat ke pelabuhan Karangantu sambil bercakap-cakap dengan penduduk lokal yang ramah-ramah dan baik hati. Penduduk lokal […]

  4. Aamiin, semoga saja, menilai pulau sekitarnya juga sudah semakin berkembang menjadi destinasi wisata seperti Pulau Tunda DLL

LEAVE A REPLY