Perjalanan menuju Banten kali ini membawa saya ke Museum Pendopo Banten. Kata ahlinya, museum itu perlu kita kunjungi untuk mengenal identitas sebuah kota, tokoh, maupun hal-hal yang berkaitan. Tentunya, kali ini saya mau mengenal lebih jauh tentang Banten, anggaplah sebagai pengantar ilmu saya untuk jauh menelisik kedalaman Banten.

Letaknya tidak jauh dari Alun-alun Serang, di Jalan Brigjen KH Samun nomor 5 Kota Serang. Jadi siapapun yang tiba di pusat kota ini sebaiknya mampir dahulu ke Museum Pendopo Banten untuk mengenal lebih jauh tentang Banten.

Bangunan itu nampak kokoh, berwarna putih, serta ditopang pilar-pilar besar di halaman mukanya. Bentuknya cukup mengingatkan saya dengan Balaikota Jakarta, jelas bangunan berasitektur Eropa ini pun memiliki nilai sejarah, karena memang peninggalan dari masa kolonial Belanda. Pada awal didirikan pendopo ini digunakan sebagai kantor Residentie Van Bantam di abad 19, kemudian dijadikan kantor pemerintahan Jepang saat penjajahan Jepang, setelah kemerdekaan sekira tahun 1974, bangunan digunakan sebagai Rumah Dinas Gubernur Banten.

WP_20141028_004Namun, sejak Kantor Gubernur Provinsi Banten dipindahkan ke Kawasan Pusat Pemerintahan Provinsi Banten, bangunan ini dialih fungsikan menjadi sebuah Museum karena dilihat dari lokasi dan nilai bangunannya, sangat tepat dijadikan Museum sehinga bangunan ini diresmikan dengan nama Museum Pendopo Banten.

Pada dasarnya Museum Pendopo Banten merupakan kumpulan bangunan bersejarah. Selanjutnya, tentu di kawasan bangunan museum bukan hanya digunakan sebagai museum, tetapi sebagai pusat kegiatan kesenian dan kebudayaan sanggar-sanggar yang ada di Banten. Lengkaplah sudah pengantar soal Banten di kawasan bangunan Museum Pendopo Banten.

Fasilitas

Museum Pendopo Banten diresmikan 29 Oktober 2015 lalu. Untuk memasukinya tidak dipungut biaya alias gratis! Jam buka mulai dari jam 8 pagi hingga jam 4 sore setiap harinya. Mengunjunginya bisa sendiri, bersama teman, atau rombongan karyawisata.

Dekat meja registrasi kita akan disambut oleh bacula atau badak bercula satu khasnya Banten, juga replika prasasti Munjul. Museum provinsi Banten berbeda dengan museum di provinsi lainnya, yang kebanyakan menerapkan urutan waktu atau storyline, sedangkan museum ini mengacu kepada post modern  yakni dengan memanfaatkan teknologi digital.

Pertama kali memasuki museum, saya disuguhkan oleh atraksi hologram yang menerangkan sejarah Banten, termasuk siapa orang Banten. Pengunjung dimanjakan dengan teknologi informasi yang membiarkan penikmatnya untuk melihat dan mendengar, tidak hanya membaca dari label barang yang dipajang. Dijamin, tidak menyesal dan tidak bosannya menjelajahi perjalanan waktu di museum ini.

Sejarah yang disajikan meliputi darat dan laut, yakni kebudayaan di darat, kekayaan alam, sejarah budaya lokal. Kemudian akan diproses ruang atau sudut baru untuk menilik sejarah religi di Banten. Adapun aula untuk menonton film tentang sejarah Banten.

Selain berkeliling, kita bisa menikmati kegiatan workshop yang ada di Museum Pendopo Banten. Jangan ragu untuk mengikuti atau menanyakan kegiatan menarik lainnya yang bisa kita ikuti di lain hari.

Menuju Ke Museum Pendopo Banten

Untuk menuju Museum Pendopo Banten atau Museum Negeri Banten, temukan Alun-Alun Kota Serang terlebih dulu. Jaraknya dari Alun-alun hanya sekira 1 kilometer saja, jalan kaki lebih sehat hanya menempuh sekira 12 menit perjalanan daripada menaiki kendaraan harus memutar lebih jauh.

Jika kamu dari arah Jakarta kamu bisa menaiki bus ke arah Merak, dan pastikan turun di Terminal Pakupatan Serang, biaya sekira 15-25 ribu. Dari Terminal Pakupatan cukup menumpang angkutan umum ke Alun-Alun atau bisa tanya apakah melewati Museum.

Naik kereta juga bisa dengan KA Kalimaya dan KA Krakatau Ekspress dari Tanah Abang. Cek jadwal keberangkatannya dulu ya. Biaya tiketnya sekira Rp20.000 saja, jarak Stasiun Serang dan Alun-Alun pun tidak terlalu jauh sekira 1 kilometeran. Jika ingin menggunakan angkutan umum, hanya Rp3.000, sedangkan ojek motor sekira Rp10.000-Rp15.000.

LEAVE A REPLY